Selasa, 14 Oktober 2008

Rumah Kaca

Tugas Editorial 1

Belakangan ini suhu, iklim, musim tak dapat diprediksi. Tiba-tiba saja hujan turun lebat dan juga panas yang menyengat tubuh. Pasang surut air lautpun juga tidak menentu. Semua ini akibat adanya pemanasan global (global warming) yang adanya karena peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. Suhu rata-rata pada permukaan bumi telah meningkat yaitu 0.74 ± 0.18 ºC selama seratus tahun terakhir.

Bagian-bagian rumah kaca adalah ketika menghubung tinggi gas-gas polutan akibat aktivitas manusia tak hilang ke angkasa. Mereka bertumpuk di lapisan atmosfer. Disanalah meraka diam dan menimbulkan efek rumah kaca. Sekitar tahun 1824 Jean-Baptiste Joseph Fourier menjelaskan, suhu hangat dalam rumah kaca itu terjadi karena sebagian panas sinar matahari terjebak didalamnya tidak dapat keluar karena terhalang atap dan dinding kaca. Ketika radiasi surya menerpa atap rumah kaca, radiasi inframerah dipantulkan, sebagian cahaya mampu menembus sebagian lagi mampu memantul.

Dalam konteks rumah kaca secra harfiah, radiasi gelombang yang terpancar tidak dapat keluar karena tak mampu menembus dinding dan atap kaca. Hanya berputar di dalamnya saja, dan sebagian terserap oleh gas-gas rumah kaca (CO², NOx, metana dll) yang membuat suhu udara menjadi lebih terasa panas. Diantara gas-gas rumah kaca yang kini diketahui ada 30 jenis, tetapi yang mendominasi adalah CO² yang utama. CO² memiliki 383ppm (parts per millions) pada tahun 2007, atinya ada 383 molekul CO² setiap satu juta molekul udara.

Apa yang terjadi dalam efek rumah kaca? Peningkatan tinggi permukaan laut yang disebabkan oleh mencairnya es atau gletser didua kutub dunia. Kemudian Cuaca, musim, iklim yang tidak menentu (tidak sesuai dalam prediksi) yang menyebabkan pergeseran ekosistem seperti munculnya ruang ekosistem baru untuk nyamuk berkembangbiak serta timbulnya berbagai macam penyakit diare, malnutrisi, demamberdarah, dll.

Lalu apabila kejadian pemanasan global(global warming) terus berlangsung apakah fenomena alam yang tidak dapat terhindar? Jawabanya adalah harus ada kerja sama international, karena semua ini menyangkut kesehatan bumi yang dimana kita umat manusia memiliki akal budi tinggal didalamnya, agar dapat mengatakan bahwa manusialah. Laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) tahun 2007, menunjukkan bahwa secara rata-rata global aktivitas manusia semenjak tahun 1750 menyebabkan adanya pemanasan.

Kalau tidak ada upaya yang serius untuk menanggulangi emisi gas-gas rumah kaca, maka pada tahun 2050 nanti konsentrasinya akan melampaui 560 ppm. Belum lagi gas-gas lainnya. Suhu bumi akan naik rata-rata 2-3 ºC, dan pasti akan terjadi perubahan iklim dunia. Atmosfer bumi yang bagian utamanya troposfer yang tebalnya tidak sapai 13 Km akan mengalami guncangan, sehingga peran atmosfer yang melindungi bumi mungkin akan lebih cepat hancur.

Tidak ada komentar: